Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan 15 September 2026. Berdasarkan data Trading Economics, emas berada di sekitar US$4.308,32 per troy ounce, naik tipis 0,21% dari sesi sebelumnya. Namun, dalam satu bulan terakhir harga emas masih turun sekitar 2,44%, meski secara tahunan tetap mencatat kenaikan sekitar 16,70%.
Pergerakan harga emas kali ini tidak terlepas dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga Amerika Serikat. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 92% pada pertemuan The Fed yang berlangsung 15–16 September. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun.
Dolar AS dan Yield Treasury Tekan Emas
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat turut mendorong Dolar AS menguat. Indeks dolar AS berada di sekitar 99,55, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bergerak mendekati 5%, level yang terakhir terlihat sejak 2023. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga. Ketika yield obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut naik.
Selain faktor suku bunga, kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian. Harga minyak kembali menembus US$100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi sehingga memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat. Situasi ini membuat pasar harus menghadapi dua sentimen sekaligus: emas mendapat dukungan dari risiko geopolitik, tetapi tertahan oleh penguatan dolar dan yield.
Prospek XAU/USD Masih Bergantung pada The Fed

Trading Economics mencatat harga emas sempat mencapai rekor tertinggi US$5.608,35 per troy ounce pada Januari 2026. Meski terkoreksi dari rekor tersebut, model Trading Economics masih memperkirakan emas berada di sekitar US$4.370,89 pada akhir kuartal III, dengan proyeksi sekitar US$4.775,83 dalam 12 bulan. Proyeksi tersebut tetap merupakan estimasi dan dapat berubah mengikuti perkembangan pasar.
Bagi trader, perhatian utama kini tertuju pada keputusan The Fed dan pernyataan setelah rapat. Bukan hanya keputusan suku bunganya, tetapi juga bagaimana bank sentral melihat inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta kemungkinan kenaikan berikutnya.
Untuk trader Indonesia, XAU/USD perlu dipantau bersama indeks dolar AS, yield Treasury, harga minyak, dan perkembangan geopolitik. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memicu pergerakan emas yang cepat, sehingga trader perlu memperhatikan kalender ekonomi, level teknikal, dan menerapkan manajemen risiko dalam setiap keputusan trading.
