Harga emas dunia kembali melemah pada Kamis, 29 Oktober 2026, dan turun di bawah US$4.050 per troy ounce. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas tercatat sekitar US$4.039,17 per troy ounce, turun 0,70% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga emas terkoreksi 2,85%, meskipun secara tahunan masih naik tipis 0,36%.
Pelemahan ini terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%. Keputusan tersebut telah diperkirakan pasar, tetapi perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral membuat arah kebijakan berikutnya tetap menjadi perhatian investor.
Keputusan The Fed Membatasi Pemulihan Emas

Dalam pertemuan 28 Oktober 2026, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga dengan hasil pemungutan suara 10–2. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, berbeda pendapat dan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin karena inflasi masih dinilai tinggi.
Keputusan tersebut belum memberikan kepastian mengenai langkah selanjutnya. Pasar kini mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember serta data ekonomi AS yang akan dirilis berikutnya, termasuk indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan tekanan mereda dan ekspektasi suku bunga berubah, emas berpotensi memperoleh dukungan.
Harga Minyak dan Risiko Geopolitik Jadi Perhatian
Kenaikan harga minyak turut memperkuat kekhawatiran inflasi. Risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah mendorong investor menilai kemungkinan biaya energi bertahan tinggi dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap emas melalui ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Meski demikian, ketidakpastian geopolitik juga dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Karena itu, pergerakan harga akan bergantung pada keseimbangan antara risiko global, inflasi, Dolar AS, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Apa Artinya bagi Trader Emas Indonesia?
Bagi trader XAU/USD di Indonesia, perkembangan kebijakan The Fed dan harga energi perlu dipantau bersama pergerakan Dolar AS serta imbal hasil Treasury. Kombinasi faktor tersebut dapat memicu volatilitas dan perubahan arah harga dalam waktu singkat.
Sebelum mengambil keputusan, perhatikan konfirmasi pergerakan harga dan terapkan manajemen risiko yang sesuai. Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi transaksi.
