Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan 9 Oktober 2026 setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada awal pekan. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas naik menjadi sekitar US$4.176,86 per troy ounce, menguat sekitar 1,06% dibandingkan hari sebelumnya. Meski mengalami pemulihan, harga emas masih terkoreksi sekitar 3,25% dalam sebulan terakhir, tetapi tetap lebih tinggi sekitar 4,08% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (Trading Economics)
Kenaikan XAU/USD terutama didukung oleh pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut membuat emas lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Yield Treasury AS tenor 10 tahun juga turun untuk hari kedua berturut-turut, sehingga mengurangi sebagian tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga. (Reuters)
Prospek Suku Bunga The Fed Masih Jadi Perhatian

Perhatian pasar tetap tertuju pada kebijakan Federal Reserve (The Fed) setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026. Sejumlah pejabat The Fed masih menilai kenaikan tambahan mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju target 2%.
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan kembali dalam enam hingga sembilan bulan ke depan. Meski demikian, ia belum memberikan arahan spesifik mengenai keputusan pada pertemuan Oktober. Pasar saat ini memperkirakan sekitar 18% peluang kenaikan suku bunga pada Oktober dan 82% pada Desember, menurut data CME FedWatch yang dikutip Reuters. (Reuters)
Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi faktor penting bagi harga emas. Jika suku bunga naik, aset berbasis dolar berpotensi menawarkan imbal hasil lebih menarik, sementara biaya peluang memegang emas ikut meningkat. Sebaliknya, pelemahan dolar dan penurunan yield dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk pulih.
Risiko Geopolitik Masih Memengaruhi Emas
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November. Ia juga menyebut kedua negara sedang melakukan pembicaraan yang produktif untuk mengakhiri konflik. Pernyataan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar, meskipun serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz masih menimbulkan risiko terhadap pasokan energi. (Reuters)
Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven. Namun, kenaikan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi baru dan memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Karena itu, pengaruh geopolitik terhadap emas dapat berjalan melalui dua arah: meningkatkan permintaan lindung nilai, tetapi juga memperbesar risiko kenaikan suku bunga.
Apa yang Perlu Dipantau Trader?
Bagi trader Indonesia, pergerakan harga emas dan XAU/USD perlu dipantau bersama indeks Dolar AS, yield Treasury, harga minyak, data inflasi, dan pernyataan pejabat The Fed. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memicu volatilitas cepat pada emas.
Dengan kondisi pasar yang masih dipengaruhi kombinasi faktor moneter dan geopolitik, trader sebaiknya menggabungkan analisis fundamental dan teknikal serta menerapkan manajemen risiko dalam setiap keputusan trading.
