Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan 7 Oktober 2026 setelah mengurangi sebagian kenaikan sesi sebelumnya. Berdasarkan data terbaru Trading Economics, emas berada di sekitar US$4.139,40 per troy ounce, turun sekitar 0,60% dari hari sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, harga emas telah terkoreksi sekitar 4,97%, tetapi masih mencatat kenaikan sekitar 2,39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tekanan terhadap XAU/USD kembali muncul ketika harga minyak naik dan risiko inflasi kembali menjadi perhatian. Trading Economics mencatat kenaikan harga minyak berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan Iran terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz serta konflik antara pasukan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi sekaligus risiko tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Yield Treasury AS dan Dolar Jadi Tekanan
Selain geopolitik, imbal hasil Treasury AS masih berada di level tinggi. Kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten, meningkatnya risiko fiskal, dan penerbitan utang yang berkaitan dengan investasi artificial intelligence (AI) membuat yield obligasi AS tetap tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di pasar valuta asing, Dolar AS juga masih relatif kuat. Trading Economics menunjukkan EUR/USD berada di sekitar 1,1231, sementara USD/JPY berada di sekitar 158,42 pada perdagangan terbaru. Penguatan dolar dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Berubah
Di sisi lain, tekanan terhadap emas sedikit tertahan oleh perubahan ekspektasi terhadap Federal Reserve (The Fed). Setelah pertumbuhan lapangan kerja AS pada September lebih lemah dari perkiraan dan data payroll dua bulan sebelumnya direvisi turun, pasar mengurangi peluang kenaikan suku bunga pada Oktober. Trading Economics mencatat pasar kini memperkirakan hampir 80% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan ini, sementara perhatian mulai bergeser ke kemungkinan kenaikan pada Desember.
Investor kini menunggu risalah rapat FOMC September untuk mencari petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap inflasi, pasar tenaga kerja, dan arah suku bunga berikutnya. Risalah tersebut menjadi penting karena dapat mengubah kembali ekspektasi pasar dan memengaruhi pergerakan dolar, yield Treasury, serta emas.
Prospek Harga Emas dan XAU/USD

Trading Economics memperkirakan harga emas berada di sekitar US$4.237,22 per troy ounce pada akhir kuartal IV 2026 dan sekitar US$4.546,76 dalam 12 bulan. Harga tersebut tetap merupakan proyeksi, bukan jaminan arah pasar. Emas sebelumnya mencatat rekor tertinggi US$5.608,35 per troy ounce pada Januari 2026.
Bagi trader Indonesia, pergerakan XAU/USD perlu dipantau bersama risalah FOMC, yield Treasury AS, Dolar AS, harga minyak, data inflasi, serta perkembangan geopolitik. Kombinasi faktor tersebut dapat membuat harga emas bergerak cepat. Karena itu, trader sebaiknya menggabungkan analisis fundamental dan teknikal serta menerapkan manajemen risiko dalam setiap keputusan trading.
