Harga emas dunia atau XAU/USD bergerak relatif stabil pada Senin, 10 Agustus 2026, setelah mencatat kenaikan lebih dari 7% pada pekan sebelumnya. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas berada di sekitar US$4.325 per troy ounce, turun sekitar 0,4% dibandingkan sesi sebelumnya. Meski mengalami koreksi tipis, emas masih mencatat kenaikan sekitar 8% dalam sebulan dan hampir 30% secara tahunan.
Pergerakan harga emas saat ini mendapat dukungan dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan ekonomi kehilangan sekitar 23.000 pekerjaan pada Juli, berbanding dengan kenaikan 20.000 pekerjaan pada Juni setelah revisi. Angka tersebut juga jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan. Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah membuat investor kembali memperhitungkan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi katalis positif bagi harga emas. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di sekitar 44%, turun dari sekitar 67% sepekan sebelumnya. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat mengurangi tekanan terhadap aset non-yielding seperti emas karena biaya peluang untuk memegang logam mulia menjadi lebih rendah.
Selain kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap menjadi faktor penting bagi XAU/USD. Dolar AS yang lebih kuat cenderung membatasi kenaikan harga emas karena emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Sebaliknya, pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan daya tarik emas bagi investor.

Sentimen safe haven juga masih memberikan dukungan. Ketidakpastian terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz membuat pasar energi dan aset keuangan global tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai ketika investor menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi.
Dari sisi tren, harga emas masih menunjukkan performa yang kuat. Trading Economics mencatat harga emas telah mencapai rekor tertinggi sekitar US$5.608 per troy ounce pada Januari 2026. Sementara itu, proyeksi model mereka memperkirakan harga emas berada di sekitar US$4.401 per troy ounce pada akhir kuartal ini.
Bagi trader di Indonesia, pergerakan XAU/USD perlu dipantau bersama data ekonomi Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga The Fed, dolar AS, imbal hasil Treasury, serta perkembangan geopolitik. Kombinasi faktor tersebut dapat memicu volatilitas harga emas dalam waktu singkat.
Dalam jangka pendek, harga emas berpotensi tetap mendapatkan dukungan selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun dan sentimen safe haven bertahan. Namun, trader tetap perlu memperhatikan risiko koreksi setelah kenaikan yang cukup kuat serta menerapkan manajemen risiko dalam setiap keputusan trading.
