Rial Iran Collapses ke Level Terendah dalam Sejarah
Mata uang Iran, rial, resmi mengalami kejatuhan tajam terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang utama lainnya akhir-akhir ini. Di pasar bebas Iran, 1 USD kini diperdagangkan sekitar 1,4–1,47 juta rial, mencatatkan nilai terendah dalam sejarah modern negara tersebut. Pelemahan ini mencerminkan krisis ekonomi yang semakin parah di tengah tekanan internasional dan gejolak domestik yang memicu kerusuhan massal serta protes nasional.
Krisis ini tidak muncul tiba-tiba. Selama beberapa tahun terakhir, inflasi tinggi, sanksi internasional atas program nuklir, serta ketidakstabilan politik telah merongrong kepercayaan publik terhadap ekonomi Iran. Pada akhir 2025, rial telah merosot sekitar 40–45% terhadap dolar AS, membuat daya beli warga anjlok dan harga kebutuhan pokok meroket.
Akibatnya, masyarakat mencari perlindungan dengan memindahkan tabungan mereka ke aset yang lebih stabil, seperti mata uang asing, emas, atau bahkan kripto — yang justru semakin memperlemah nilai rial.

Emas dan Perak Cetak All-Time High di Tengah Ketidakpastian Global
Di tengah tekanan ekonomi yang memuncak, pasar logam mulia justru mengalami fenomena sebaliknya: emas dan perak melonjak ke harga tertinggi sepanjang masa.
Menurut data pasar global, harga emas berhasil menembus lebih dari USD 4.600 per ounce, mencatat rekor baru sebagai aset safe-haven utama di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, harga perak juga berada di titik tertinggi, bergerak mendekati atau bahkan melewati rekor sebelumnya.
Lonjakan harga logam mulia ini didorong oleh beberapa faktor kunci:
Permintaan safe-haven meningkat saat risiko geopolitik naik, termasuk konflik regional dan protes di Iran yang memperburuk sentimen pasar.
Faktor global lain, seperti ketidakpastian kebijakan moneter AS dan kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, turut membuat investor mencari aset yang lebih aman daripada saham atau obligasi.
Dengan kondisi ini, investor global cenderung mengalihkan modal mereka ke emas dan perak, yang dianggap sebagai penyimpan nilai paling stabil dalam situasi krisis.