Pasangan USD/JPY bergerak di sekitar 157,60 pada 2 Oktober 2026, turun sekitar 0,3% dalam perdagangan sesi Eropa. Pelemahan tersebut terjadi ketika Dolar AS terkoreksi dari level tertinggi tahunannya, sementara investor mengalihkan perhatian ke laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat untuk September. Berdasarkan laporan FXStreet, USD/JPY masih mempertahankan bias bullish jangka pendek yang ringan karena harga berada di atas EMA 20 hari.
Indeks Dolar AS (DXY) juga ikut melemah ke sekitar 101,88, setelah sebelumnya mencapai 102,20. Pergerakan dolar menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi USD/JPY karena pasangan ini mencerminkan nilai dolar terhadap yen. Ketika dolar menguat, USD/JPY cenderung naik karena diperlukan lebih banyak yen untuk membeli satu dolar.
NFP AS Jadi Katalis Utama
Pasar kini menunggu data NFP September yang dijadwalkan dirilis Jumat, 2 Oktober pukul 19:30 WIB. Konsensus Bloomberg yang dikutip OCBC memperkirakan penambahan lapangan kerja sebesar 90 ribu, lebih rendah dibanding 162 ribu pada Agustus, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,1%.
Data ketenagakerjaan akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed). Menurut analis OCBC yang dikutip FXStreet, laporan pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan lebih lanjut dan memberikan dukungan terhadap dolar AS. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat mengubah ekspektasi tersebut.
NFP juga perlu dibaca bersama tingkat pengangguran, pertumbuhan upah, dan revisi data sebelumnya. FXStreet mencatat laporan ketenagakerjaan dapat memicu volatilitas besar di pasar valuta asing, sehingga angka utama NFP bukan satu-satunya faktor yang menentukan respons pasar.
Inflasi Jepang Ikut Mendukung Yen
Dari Jepang, data inflasi Tokyo untuk September menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat. CPI Tokyo tanpa makanan segar meningkat menjadi 2,7% secara tahunan, dari 1,8% pada Agustus dan di atas angka sebelumnya 2,4%. Sementara itu, CPI Tokyo tanpa makanan dan energi meningkat menjadi 3%. Perkembangan ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Bank of Japan (BoJ).
Kenaikan inflasi Jepang dapat memperkuat perhatian pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter BoJ yang lebih ketat. Karena itu, pergerakan yen tidak hanya ditentukan oleh kondisi Dolar AS, tetapi juga oleh perkembangan inflasi dan ekspektasi suku bunga Jepang.
Level Teknikal USD/JPY
Dari sisi teknikal, USD/JPY diperdagangkan di sekitar 157,61, sementara EMA 20 hari berada di 157,26. Selama harga bertahan di atas level tersebut, tekanan jual jangka pendek belum sepenuhnya mengubah struktur kenaikan. RSI 14 berada di 51,50, menunjukkan momentum berada sedikit di atas area netral.
Support terdekat berada di EMA 20 hari pada 157,26, kemudian 156,38, level terendah 30 September. Di sisi atas, resistance berada di 159,04, disusul 160,39. Level-level tersebut dapat menjadi perhatian trader ketika USD/JPY merespons data NFP.
Bagi trader Indonesia, USD/JPY perlu dipantau bersama NFP AS, CPI Jepang, kebijakan The Fed dan BoJ, serta pergerakan DXY. Karena rilis data tenaga kerja AS dapat meningkatkan volatilitas secara cepat, trader sebaiknya mempertimbangkan kondisi fundamental dan teknikal secara bersamaan serta menerapkan manajemen risiko.
