Euro kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan 1 Oktober 2026. Berdasarkan laporan FXStreet, pasangan EUR/USD bergerak di sekitar 1,1325 pada awal sesi Asia, melanjutkan tekanan setelah sebelumnya turun mendekati level terendah sejak Mei 2025. Pelemahan euro terjadi ketika imbal hasil obligasi Pemerintah AS kembali meningkat, sementara komentar Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde dinilai lebih berhati-hati terhadap pengetatan kebijakan moneter.
Salah satu faktor utama yang mendukung dolar AS adalah kenaikan yield Treasury AS. Trading Economics mencatat imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5,29% pada 1 Oktober 2026, naik 0,51 poin dalam sebulan terakhir dan sekitar 1,20 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Yield yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan memperlebar perbedaan imbal hasil antara Amerika Serikat dan Zona Euro.
Data PCE AS Masih Jadi Perhatian
Di sisi lain, data inflasi AS terbaru memberikan sinyal yang lebih beragam. Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3% secara bulanan pada Agustus, sehingga inflasi tahunan berada di 3,4%. Sementara itu, core PCE meningkat 0,2% secara bulanan dan mencapai 3,0% secara tahunan, keduanya lebih rendah dari perkiraan pasar. Data yang lebih lunak tersebut sempat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Menurut CME FedWatch yang dikutip FXStreet, peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober turun menjadi sekitar 38,2%. Namun, pasar masih memperkirakan kemungkinan kenaikan berikutnya pada Desember. Artinya, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar dan EUR/USD.
Sikap Lagarde Membatasi Ekspektasi Kenaikan ECB
Dari Eropa, Christine Lagarde mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi dapat menahan ekspansi ekonomi dan membatasi dampak kenaikan biaya energi terhadap inflasi. Ia juga menilai ECB perlu memberikan respons yang terukur karena sejauh ini belum terlihat efek putaran kedua dari tekanan harga. Pernyataan tersebut dinilai pasar sebagai sinyal bahwa ECB tidak terburu-buru memperketat kebijakan.
Perbedaan ekspektasi kebijakan ini menjadi penting bagi EUR/USD. Ketika pasar melihat ruang pengetatan The Fed masih terbuka, sementara ECB lebih berhati-hati, dolar dapat memperoleh dukungan relatif terhadap euro.
Level EUR/USD yang Perlu Diperhatikan
Dari sisi teknikal, FXStreet mencatat EUR/USD masih berada di bawah SMA 100 hari dan garis tengah Bollinger Band. RSI 14 berada di sekitar 22,5, yang menunjukkan kondisi jenuh jual. Support terdekat berada di sekitar 1,1270, sedangkan resistance berada di sekitar 1,1483 dan 1,1515. Penembusan level-level tersebut dapat menjadi perhatian trader untuk membaca perubahan momentum.
Bagi trader Indonesia, pergerakan EUR/USD perlu dipantau bersama yield Treasury AS, data inflasi PCE dan CPI, keputusan The Fed, serta komunikasi ECB. Kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan volatilitas euro dalam waktu singkat. Karena itu, trader sebaiknya melihat data fundamental dan teknikal secara bersamaan serta menerapkan manajemen risiko saat menghadapi pergerakan pasar yang cepat.
