Nilai tukar euro kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan 29 September 2026. Berdasarkan data terbaru Trading Economics, pasangan EUR/USD turun ke sekitar 1,1337, melemah 0,30% dari sesi sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, euro telah turun sekitar 2,42%, sementara secara tahunan melemah 3,39% terhadap dolar AS. Level tersebut menjadi yang terendah sejak Mei 2025.
Tekanan terhadap euro datang dari kombinasi penguatan Dolar AS, kenaikan yield Treasury, dan perubahan ekspektasi suku bunga. Trading Economics mencatat investor kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat setelah pernyataan hawkish sejumlah pejabat Federal Reserve. Pasar juga menilai pertumbuhan ekonomi dan kondisi tenaga kerja Amerika Serikat masih relatif kuat, sehingga peluang suku bunga AS bertahan tinggi menjadi perhatian.
Inflasi Zona Euro Jadi Perhatian

Di kawasan Eropa, situasinya lebih kompleks. Inflasi Zona Euro mencapai 3,2% pada Agustus 2026, naik dari 2,9% pada Juli dan berada di atas target ECB sebesar 2%. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang kembali diperhatikan pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, tekanan inflasi tersebut belum otomatis membuat European Central Bank (ECB) mengambil langkah agresif. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan lonjakan inflasi terbaru belum menunjukkan efek putaran kedua yang signifikan, terutama melalui kenaikan upah. Karena itu, ECB masih menilai respons kebijakan yang terukur diperlukan sambil memantau perkembangan harga energi dan data ekonomi berikutnya.
Trading Economics mencatat pasar mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga ECB lebih lanjut hingga 2027. Saat ini, pasar uang memperhitungkan sekitar 100 basis poin kenaikan suku bunga ECB sampai akhir 2027. Investor juga menunggu data inflasi Zona Euro berikutnya untuk menilai apakah tekanan harga bersifat sementara atau semakin menetap.
Dampak terhadap EUR/USD
Perbedaan arah kebijakan antara The Fed dan ECB menjadi faktor penting bagi EUR/USD. Ketika ekspektasi suku bunga AS meningkat lebih cepat dibandingkan Eropa, dolar dapat memperoleh dukungan sehingga EUR/USD tertekan. Sebaliknya, sinyal ECB yang lebih hawkish atau data inflasi Eropa yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap euro.
Pergerakan harga energi juga menjadi faktor tambahan. Trading Economics menyebut kurangnya kemajuan dalam pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Kondisi tersebut menambah tekanan bagi euro.
Bagi trader Indonesia, EUR/USD perlu dipantau bersama inflasi Zona Euro, komentar ECB, keputusan The Fed, yield Treasury AS, harga minyak, dan data ekonomi utama dari Amerika maupun Eropa. Trader sebaiknya tidak hanya memperhatikan pergerakan harga euro, tetapi juga memahami faktor makro yang berada di balik perubahan tersebut serta menerapkan manajemen risiko saat volatilitas meningkat.
