Harga tembaga dunia kembali menguat dan mencetak level tinggi baru pada perdagangan 22 September 2026. Berdasarkan data Trading Economics, tembaga berada di sekitar US$6,75 per pound, naik 0,89% dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga tembaga telah meningkat sekitar 2,14%, sedangkan secara tahunan kenaikannya mencapai lebih dari 47%. Harga tersebut juga mendekati rekor tertinggi US$6,83 per pound yang tercatat pada Agustus 2026.
Penguatan harga tembaga berlangsung selama enam sesi berturut-turut dan terutama didorong oleh kekhawatiran terhadap pasokan global. Trading Economics mencatat produksi tambang tembaga dunia turun sekitar 1,1% secara tahunan pada paruh pertama 2026. Gangguan produksi di sejumlah tambang utama Indonesia dan Republik Demokratik Kongo bahkan diperkirakan mengurangi sekitar 600.000 ton dari produksi tahunan yang sebelumnya diharapkan.
Permintaan China Jadi Katalis Penting
Selain faktor pasokan, permintaan tembaga dari China ikut menopang kenaikan harga. Salah satu indikator yang diperhatikan pasar adalah Yangshan copper premium, yang meningkat menjadi sekitar US$121 per ton, level tertinggi sejak November 2022. Kenaikan premi tersebut menjadi indikasi bahwa permintaan fisik tembaga di China sedang menguat.
China memiliki peran penting dalam pasar tembaga karena merupakan salah satu konsumen dan importir terbesar dunia. Selain China, Jepang, India, Korea Selatan, dan Jerman juga menjadi konsumen utama. Tembaga sendiri banyak digunakan dalam konstruksi, elektronik, pembangkit listrik, jaringan listrik, dan proyek energi terbarukan, sehingga pergerakannya kerap diperhatikan sebagai salah satu indikator kondisi aktivitas ekonomi global.
AI dan Energi Terbarukan Tingkatkan Kebutuhan Tembaga
Dalam jangka panjang, kebutuhan tembaga juga berpotensi meningkat seiring ekspansi pusat data berbasis artificial intelligence (AI), kendaraan listrik, jaringan listrik, dan energi terbarukan. Reuters mencatat permintaan dari jaringan listrik, pusat data AI, dan sektor pertahanan tetap kuat, sementara keterbatasan investasi dan gangguan produksi dapat meningkatkan risiko ketatnya pasokan logam penting seperti tembaga.
Namun, kenaikan harga tembaga juga menghadapi sejumlah risiko. Trading Economics mencatat pelaku pasar masih mengawasi rencana tarif Amerika Serikat terhadap tembaga. Departemen Perdagangan AS mengusulkan bea sebesar 15% mulai Januari 2027 dan 30% mulai 2028, tetapi rencana tersebut masih menunggu keputusan akhir pemerintah. Kebijakan ini berpotensi mengubah arus perdagangan tembaga global dan memengaruhi distribusi pasokan antarnegara.
Prospek Harga Copper
Trading Economics memperkirakan harga tembaga berada di sekitar US$6,63 per pound pada akhir kuartal III 2026, sementara estimasi 12 bulan mencapai sekitar US$7,27 per pound. Proyeksi tersebut bukan angka pasti dan dapat berubah mengikuti perkembangan permintaan, produksi tambang, kebijakan perdagangan, serta kondisi ekonomi global.
Bagi trader Indonesia, pergerakan harga copper layak dipantau bersama data ekonomi China, aktivitas industri global, perkembangan pasokan dari negara produsen seperti Indonesia dan Chile, serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Karena tembaga memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas manufaktur dan energi, perubahan harganya juga dapat memberikan gambaran mengenai sentimen pasar terhadap pertumbuhan ekonomi global.
