uku bunga Zona Euro kembali menjadi perhatian pasar menjelang keputusan kebijakan moneter European Central Bank (ECB) pada 10 September 2026. Berdasarkan data Trading Economics, ECB diperkirakan menaikkan suku bunga utama sebesar 25 basis poin. Jika terealisasi, suku bunga operasi refinancing utama akan naik dari 2,40% menjadi 2,65%, sementara suku bunga fasilitas deposito diproyeksikan meningkat menjadi 2,50%.
Ekspektasi kenaikan tersebut muncul ketika inflasi Zona Euro meningkat menjadi 3,3% pada Agustus, level tertinggi dalam sekitar tiga tahun dan masih cukup jauh di atas target ECB sebesar 2%. Tekanan inflasi kembali menjadi perhatian setelah kenaikan harga energi yang berkaitan dengan konflik geopolitik dan gangguan pada jalur perdagangan global. Kondisi tersebut membuat ECB menghadapi tantangan untuk menjaga inflasi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap aktivitas ekonomi.
ECB Hadapi Dilema Inflasi dan Pertumbuhan

Kenaikan suku bunga dapat membantu menekan permintaan dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Namun, kebijakan moneter yang lebih ketat juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan. Karena itu, ECB perlu mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Trading Economics mencatat bahwa sebagian ekonom masih mempertanyakan kebutuhan kenaikan suku bunga berikutnya karena dampak kebijakan ketat berpotensi membebani pertumbuhan. Di sisi lain, pasar suku bunga justru telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan ketiga pada Desember, menunjukkan bahwa risiko inflasi masih dianggap cukup persisten.
Keputusan terbaru juga memiliki latar belakang perubahan kebijakan pada tahun ini. ECB menaikkan tiga suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada Juni 2026, kenaikan pertama dalam tiga tahun. Setelah itu, ECB mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli sambil menunggu perkembangan inflasi dan dampak kenaikan harga energi. ECB menegaskan bahwa keputusan selanjutnya akan bersifat data-dependent dan ditentukan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Dampak terhadap Euro dan EUR/USD
Perubahan ekspektasi suku bunga ECB dapat memengaruhi pergerakan euro (EUR), terutama terhadap dolar AS. Kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari perkiraan pasar berpotensi memberikan dukungan terhadap euro karena meningkatkan daya tarik aset berdenominasi EUR. Sebaliknya, jika ECB memberikan sinyal lebih hati-hati mengenai kenaikan berikutnya, euro dapat menghadapi tekanan.
Bagi trader Indonesia, perhatian utama dapat diarahkan pada EUR/USD, selain indeks saham Eropa dan obligasi zona euro. Pergerakan pasangan mata uang tersebut dapat menjadi lebih volatil ketika keputusan ECB dan konferensi pers Christine Lagarde berlangsung.
Karena itu, trader sebaiknya tidak hanya melihat keputusan kenaikan atau penurunan suku bunga, tetapi juga memperhatikan pernyataan ECB mengenai inflasi, harga energi, pertumbuhan ekonomi, serta prospek kebijakan berikutnya. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi petunjuk penting untuk membaca arah EUR/USD setelah keputusan diumumkan.
