Yen Jepang kembali menjadi perhatian pasar valuta asing setelah menguat terhadap dolar AS. Berdasarkan data terbaru Trading Economics, nilai tukar USD/JPY berada di sekitar 156,17 pada 7 September 2026, turun 0,05% dari sesi sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, yen telah menguat sekitar 1,96%, meski secara tahunan masih melemah hampir 5,97% terhadap dolar AS.
Penguatan yen terjadi setelah mata uang Jepang mengalami kenaikan dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Trading Economics mencatat yen berada di sekitar level 156 per dolar setelah menguat selama dua sesi berturut-turut. Pergerakan tersebut membawa yen menuju penguatan mingguan sekitar 2,5%, salah satu performa mingguan terbaiknya sejak intervensi bersama Jepang dan Amerika Serikat pada akhir Juli.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah prospek kebijakan Bank of Japan (BOJ). Sinyal yang lebih hawkish dari pejabat bank sentral meningkatkan ekspektasi bahwa BOJ dapat kembali menaikkan suku bunga. Reuters melaporkan pasar pada awal September memperkirakan probabilitas sekitar 97% untuk kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada September.
Ekspektasi tersebut penting karena suku bunga Jepang yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik strategi carry trade, yaitu meminjam dana dalam mata uang berbunga rendah seperti yen untuk membeli aset dengan imbal hasil lebih tinggi. Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat, sebagian investor dapat menutup posisi tersebut sehingga permintaan terhadap yen ikut bertambah.
Intervensi Jepang Masih Jadi Perhatian
Selain kebijakan BOJ, pelaku pasar juga mengawasi potensi intervensi pemerintah Jepang. Data Kementerian Keuangan Jepang yang diberitakan Reuters menunjukkan cadangan devisa Jepang turun US$79,6 miliar pada Agustus menjadi US$1,208 triliun, setelah Tokyo melakukan operasi penjualan dolar dan pembelian yen dalam skala besar. Jepang menghabiskan sekitar 15,4 triliun yen atau US$98,66 miliar untuk intervensi antara 30 Juli dan 26 Agustus.
Intervensi tersebut membantu mendorong yen dari level mendekati 164 per dolar menuju sekitar 155,20. Pada awal September, USD/JPY kemudian bergerak di area 155–156. Kondisi ini membuat level psikologis 160 tetap menjadi perhatian penting bagi trader karena pelemahan yen yang terlalu tajam dapat meningkatkan risiko respons dari otoritas Jepang.
Prospek USD/JPY
Trading Economics memperkirakan USD/JPY berada di sekitar 155,96 pada akhir kuartal, sementara estimasi 12 bulan ke depan berada di sekitar 152,11. Proyeksi tersebut menunjukkan adanya kemungkinan penguatan yen lebih lanjut, meski arah pasangan USD/JPY tetap sangat bergantung pada kebijakan BOJ, kondisi dolar AS, perbedaan suku bunga Jepang-Amerika Serikat, serta arus modal global.
Bagi trader di Indonesia, pergerakan USD/JPY layak diperhatikan karena pasangan ini sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan kebijakan bank sentral. Selain level harga, trader perlu memantau keputusan BOJ, data inflasi Jepang, kebijakan Federal Reserve, serta potensi intervensi valuta asing. Dengan volatilitas yang dapat berubah cepat, analisis teknikal dan manajemen risiko tetap menjadi bagian penting dalam menentukan strategi trading.
