Selain risiko geopolitik, pasar juga menghadapi persoalan pasokan minyak dari Amerika Serikat. Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS berada pada level yang sangat rendah, bahkan mendekati posisi terendah dalam beberapa dekade. Kondisi ini membatasi ruang pemerintah AS untuk menggunakan cadangan strategis sebagai penyangga apabila terjadi gangguan pasokan baru.
Di sisi lain, perkembangan permintaan global memberikan tantangan bagi kenaikan harga minyak. Reuters melaporkan bahwa proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026 telah diturunkan oleh sejumlah lembaga, sementara impor minyak China juga mengalami penurunan. Artinya, pasar menghadapi situasi yang cukup kompleks: risiko pasokan meningkat, tetapi pertumbuhan permintaan justru berpotensi melemah.
Kebijakan OPEC+ juga tetap menjadi faktor penting. Meskipun kelompok produsen telah meningkatkan produksi secara bertahap, pengaruhnya terhadap harga minyak menghadapi tantangan karena pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan perubahan permintaan. Setiap keputusan mengenai tingkat produksi dapat memengaruhi keseimbangan pasar dan menentukan seberapa besar kenaikan harga dapat bertahan.

Pergerakan Brent Crude turut mencerminkan meningkatnya risiko tersebut. Data Trading Economics menunjukkan Brent berada di sekitar US$90,60 per barel pada 31 Agustus, naik hampir 3% dalam sehari. Brent menjadi salah satu benchmark utama harga minyak global sehingga pergerakannya menjadi indikator penting bagi kondisi pasar energi internasional.
Bagi trader di Indonesia, harga minyak dunia perlu dipantau bersama perkembangan geopolitik Timur Tengah, Selat Hormuz, keputusan OPEC+, data persediaan minyak AS, serta prospek permintaan dari China dan negara konsumen utama lainnya. Perubahan faktor-faktor tersebut dapat memicu volatilitas yang cepat pada WTI dan Brent.
Dalam jangka pendek, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil. Eskalasi konflik dan gangguan pengiriman dapat mendorong harga lebih tinggi, sementara membaiknya jalur perdagangan atau pelemahan permintaan dapat menekan harga kembali. Karena itu, trader sebaiknya mengombinasikan analisis fundamental dan teknikal serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin ketika memperdagangkan komoditas energi.
