Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak relatif stabil di sekitar level 99 pada indeks dolar AS (DXY) setelah sebelumnya mengalami penguatan. Berdasarkan data Trading Economics, DXY berada di sekitar 99,13 pada 27 Agustus 2026, turun tipis 0,04% dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, dolar AS masih melemah sekitar 2,37%, meskipun secara tahunan tercatat menguat sekitar 1,34%. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih berhati-hati dalam menentukan arah dolar berikutnya.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi dolar AS adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data ekonomi Amerika Serikat terbaru menunjukkan tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Indeks harga PCE meningkat 0,2% secara bulanan pada Juli, lebih tinggi dari perkiraan 0,1%, sementara inflasi tahunan mencapai 3,7%. Data tersebut dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed perlu mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama atau mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi berlanjut.
Perhatian pasar kini tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole. Investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter pada pertemuan September, meskipun pasar tidak mengharapkan sinyal yang terlalu tegas mengenai keputusan suku bunga. Pernyataan Warsh tetap berpotensi menggerakkan dolar, obligasi, dan aset global apabila nada yang disampaikan berbeda dari ekspektasi pasar.
Selain kebijakan moneter, imbal hasil US Treasury juga menjadi faktor penting. Yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,67%, sedangkan yield 30 tahun sekitar 5,20%. Tingkat imbal hasil yang tinggi dapat mendukung dolar karena meningkatkan daya tarik aset berdenominasi USD. Namun, yield jangka panjang yang tinggi juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan kondisi fiskal Amerika Serikat.

Risiko fiskal Amerika Serikat turut menjadi perhatian. Program pembelian kembali obligasi pemerintah AS yang diperluas oleh Departemen Keuangan menjadi salah satu perkembangan yang sedang dinilai pasar. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu menjaga kondisi pasar obligasi, tetapi investor juga mempertimbangkan risiko utang dan defisit fiskal yang lebih besar dalam jangka panjang. Perdebatan mengenai peran pemerintah dan Federal Reserve dalam menjaga biaya pinjaman turut menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia dapat membantu mengurangi tekanan inflasi jangka pendek. Harga minyak Brent berada di sekitar US$89,63 per barel dan menuju penurunan mingguan lebih dari 5% setelah terdapat perkembangan diplomatik terkait Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz. Penurunan harga energi dapat membantu meredakan kekhawatiran inflasi, tetapi sekaligus mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven ketika risiko geopolitik menurun.
Pergerakan dolar AS memiliki dampak luas terhadap pasar global. Penguatan USD dapat menekan harga komoditas yang dihargai dalam dolar, termasuk emas dan minyak, sementara pelemahan dolar berpotensi memberikan ruang bagi komoditas tersebut untuk bergerak lebih tinggi. DXY juga menjadi indikator penting bagi trader yang memperdagangkan pasangan mata uang seperti EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY, dan USD/CAD.
Bagi trader dan investor di Indonesia, arah dolar AS perlu dipantau bersama data inflasi, pasar tenaga kerja, yield Treasury, dan komunikasi The Fed. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memicu volatilitas pada pasar forex dan komoditas, termasuk XAU/USD. Karena itu, kalender ekonomi dan berita bank sentral menjadi bagian penting dalam analisis fundamental.
Dalam jangka pendek, dolar AS diperkirakan masih bergerak dinamis di sekitar level 99. Data ekonomi berikutnya dan pernyataan pejabat Federal Reserve akan menjadi katalis utama. Selama inflasi masih tinggi dan yield obligasi AS berada pada level elevated, ruang bagi dolar untuk mendapatkan dukungan tetap terbuka. Namun, risiko fiskal dan ekspektasi perubahan kebijakan moneter tetap menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan USD.
