Harga minyak mentah dunia bergerak di sekitar US$81 per barel pada Jumat, 14 Agustus 2026. Berdasarkan data Trading Economics, harga Crude Oil berada di sekitar US$81,13 per barel, turun tipis dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga minyak masih mencatat kenaikan sekitar 1,9%, menunjukkan bahwa pasar energi tetap berada dalam kondisi volatil.
Pergerakan harga minyak saat ini dipengaruhi oleh dua kekuatan utama, yaitu risiko gangguan pasokan global dan kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik Amerika Serikat dan Iran serta gangguan aktivitas di Selat Hormuz, masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia sehingga setiap gangguan dapat meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global.
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak justru mengalami tekanan. Reuters melaporkan harga minyak turun lebih dari 2% pada Kamis setelah data menunjukkan lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 17,4 juta barel, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023. Data tersebut memicu kekhawatiran bahwa permintaan energi belum cukup kuat untuk menyerap pasokan yang tersedia.

Selain data persediaan AS, prospek permintaan global juga menjadi faktor penting. OPEC dan International Energy Agency (IEA) menurunkan proyeksi pertumbuhan konsumsi minyak untuk 2026. Revisi tersebut menunjukkan bahwa harga minyak menghadapi tekanan dari sisi permintaan meskipun risiko pasokan masih tinggi. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perubahan data ekonomi dan perkembangan geopolitik.
Sementara itu, perkembangan terbaru mengenai hubungan AS-Iran kembali memberikan dukungan terhadap harga minyak. Amerika Serikat mengancam mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran tanpa batas waktu, sementara aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz masih terganggu. Ketidakpastian tersebut meningkatkan risiko terjadinya gangguan pasokan berkepanjangan dan dapat menjaga volatilitas harga minyak tetap tinggi.
Bagi trader di Indonesia, pergerakan harga minyak dunia penting diperhatikan karena minyak memiliki hubungan erat dengan inflasi, biaya transportasi, dan kondisi ekonomi global. Perubahan harga crude oil juga dapat memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara-negara produsen komoditas serta instrumen energi lainnya.
Dalam jangka pendek, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, kondisi Selat Hormuz, persediaan minyak Amerika Serikat, serta proyeksi permintaan global. Jika risiko pasokan meningkat, harga minyak berpotensi mendapatkan dorongan. Sebaliknya, persediaan yang tinggi dan permintaan yang melemah dapat membatasi kenaikan.
Dengan kondisi fundamental yang saling berlawanan tersebut, trader sebaiknya mencermati harga Crude Oil, Brent, data persediaan EIA, kebijakan OPEC, dan perkembangan geopolitik sebelum menentukan posisi. Volatilitas yang tinggi juga membuat manajemen risiko menjadi bagian penting dalam trading komoditas energi.
