Dolar AS kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah indeks dolar AS atau DXY berada di 100,9847 pada 23 Juni 2026, turun tipis 0,03% dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, greenback masih menguat 1,76% dan naik 3,20% dalam 12 bulan terakhir. Trading Economics juga mencatat level ini masih dekat dengan posisi terkuatnya sejak Mei 2025, menandakan dolar AS tetap memiliki daya tahan di tengah pasar yang penuh ketidakpastian.
Penguatan dolar AS saat ini didorong oleh dua faktor utama: perkembangan perdamaian AS-Iran dan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Trading Economics menulis bahwa Washington memberi Tehran izin 60 hari untuk menjual minyak di pasar internasional, sebuah langkah yang meningkatkan harapan pemulihan pasokan global. Di saat yang sama, pasar masih menilai sikap hawkish bank sentral AS pekan lalu serta revisi naik proyeksi inflasi sebagai sinyal bahwa The Fed berpotensi tetap mengetatkan kebijakan moneter tahun ini.

Investor juga menunggu rilis PCE, indikator inflasi favorit The Fed, untuk mencari petunjuk baru tentang tekanan harga di ekonomi AS. Trading Economics menyoroti bahwa pasar kini menempatkan ulang ekspektasi terhadap jalur suku bunga, dengan sejumlah lembaga besar seperti Deutsche Bank dan BofA Global Research menyesuaikan proyeksi mereka agar memasukkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September. Bagi pasar valuta asing, kombinasi inflasi yang belum benar-benar reda dan peluang kenaikan suku bunga biasanya menjadi penopang bagi dolar AS.
Data domestik AS juga masih memberi ruang bagi dolar untuk bertahan kuat. Trading Economics mencatat inflasi AS berada di 4,20% pada Mei 2026, naik dari 3,80% sebelumnya, sementara suku bunga Fed Funds bertahan di 3,75% dan tingkat pengangguran berada di 4,30%. Kombinasi ini menunjukkan ekonomi Amerika Serikat masih memiliki tekanan harga yang cukup tinggi, sehingga pasar belum sepenuhnya yakin bahwa The Fed akan segera beralih ke kebijakan yang lebih longgar.
Secara teknikal, Trading Economics memperkirakan DXY berada di 100,80 pada akhir kuartal ini dan berpotensi turun ke 98,96 dalam 12 bulan ke depan. Artinya, meski dolar AS masih dominan dalam jangka pendek, pasar mulai melihat ruang konsolidasi jika tensi geopolitik mereda dan tekanan inflasi berangsur turun. Bagi trader di Indonesia, kondisi ini penting dipantau karena kekuatan dolar AS dapat memengaruhi arah emas, minyak, dan pasangan mata uang utama, termasuk sentimen di pasar keuangan Asia.
