Dolar AS masih bergerak stabil di sekitar level 99,5 pada perdagangan terbaru. Trading Economics mencatat indeks dolar AS (DXY) berada di 99,5182 pada 17 Juni 2026, turun tipis 0,05% dari sesi sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, dolar AS masih menguat 0,33% dan naik 0,62% dalam 12 bulan terakhir. Secara historis, DXY pernah menyentuh rekor tertinggi 164,72 pada Februari 1985.
Pergerakan dolar AS saat ini banyak dipengaruhi oleh sikap pasar yang menanti keputusan suku bunga Federal Reserve. Trading Economics menyebut investor menunggu arah kebijakan terbaru The Fed, yang secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Pertemuan ini juga menjadi yang pertama di bawah Ketua baru Kevin Warsh, sementara pasar menyoroti data ritel AS dan pending home sales untuk membaca kondisi ekonomi berikutnya.

Di sisi geopolitik, sentimen dolar turut dipengaruhi perkembangan kesepakatan damai AS-Iran yang akan ditandatangani pada Jumat dan diperkirakan membuka kembali Selat Hormuz serta memulihkan arus minyak dari Timur Tengah. Trading Economics mencatat investor terus memantau dampak kesepakatan ini terhadap permintaan dolar sebagai aset safe haven, sementara Reuters sebelumnya melaporkan dolar sempat melemah saat kabar damai tersebut muncul dan harga minyak turun ke level terendah dua bulan.
Dari sisi fundamental domestik, pasar juga mencermati tekanan inflasi di Amerika Serikat. Trading Economics menyoroti bahwa inflasi AS tercatat 4,20% pada Mei 2026, di atas pembacaan sebelumnya 3,80%, sementara suku bunga Fed Funds berada di 3,75% dan tingkat pengangguran 4,30%. Kombinasi data ini membuat arah kebijakan moneter AS tetap menjadi faktor kunci yang menjaga dolar AS bertahan di level tinggi.
Secara teknis, Trading Economics memperkirakan dolar AS akan diperdagangkan di 99,66 pada akhir kuartal ini dan berpotensi turun ke 97,88 dalam 12 bulan ke depan. Artinya, dalam jangka pendek greenback masih ditopang ketidakpastian global dan ekspektasi The Fed, tetapi pasar mulai melihat peluang pelemahan bertahap jika tensi geopolitik mereda dan tekanan inflasi berkurang.
Bagi trader di Indonesia, pergerakan dolar AS penting untuk dipantau karena memengaruhi arah emas, minyak, saham global, dan pasangan mata uang utama. Selama pasar masih menunggu sinyal resmi dari The Fed dan perkembangan kesepakatan AS-Iran, volatilitas dolar AS kemungkinan tetap tinggi.
