Dolar AS masih bertahan kuat pada perdagangan terbaru. Berdasarkan data Trading Economics per 12 Juni 2026, indeks dolar AS atau DXY berada di 99,8142, naik 0,13% dari sesi sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, dolar AS menguat 1,31%, dan secara tahunan naik 1,66%. Angka ini menunjukkan bahwa greenback tetap memiliki daya tahan di tengah pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global.
Penguatan dolar AS kali ini didorong oleh statusnya sebagai aset safe haven. Trading Economics mencatat bahwa sentimen pasar sempat tertekan oleh komentar Presiden Donald Trump yang menyebut peluang kesepakatan damai dengan Iran bisa terjadi dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut menekan harga minyak dan sempat mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai, meski sebagian pelemahan dari sesi sebelumnya masih bertahan.

Di sisi lain, pasar juga menyoroti data inflasi produsen Amerika Serikat. Pada Mei 2026, producer prices AS naik 6,5% year-on-year, lebih tinggi dari perkiraan 6,4% dan menjadi level tertinggi sejak November 2022. Trading Economics menilai kenaikan ini memperlihatkan semakin kuatnya dampak guncangan energi dari Timur Tengah terhadap tekanan harga di AS. Sebelumnya, inflasi konsumen juga telah bergerak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kombinasi antara inflasi yang masih panas dan ketegangan geopolitik membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve tetap tinggi. Trading Economics menyebut data PPI terbaru kemungkinan memperkuat spekulasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Bagi pasar valuta asing, prospek suku bunga yang lebih ketat biasanya menjadi faktor pendukung bagi dolar AS.
Secara teknikal dan historis, posisi dolar AS saat ini juga masih jauh dari rekor tertingginya. Trading Economics mencatat level tertinggi sepanjang masa DXY berada di 164,72 pada Februari 1985. Untuk proyeksi ke depan, indeks dolar AS diperkirakan berada di 99,94 pada akhir kuartal ini dan berpotensi turun ke 98,16 dalam 12 bulan ke depan, menandakan ruang konsolidasi masih terbuka jika ketegangan global mereda.
Komposisi indeks DXY juga penting untuk dipahami karena dolar AS diukur terhadap beberapa mata uang utama dunia. Euro memiliki bobot terbesar sebesar 57,6%, disusul yen Jepang 13,6%, pound sterling 11,9%, dolar Kanada 9,1%, krona Swedia 4,2%, dan franc Swiss 3,6%. Artinya, pergerakan dolar AS sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap Eropa, Jepang, Inggris, dan ekonomi maju lainnya.
Bagi trader dan investor, stabilnya dolar AS di dekat level 100 menjadi sinyal penting untuk memantau arah emas, minyak, saham, dan pasangan mata uang utama. Selama isu Timur Tengah, inflasi AS, dan keputusan The Fed belum menemukan kepastian, volatilitas dolar AS diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.
