Dolar AS masih menunjukkan ketahanan pada perdagangan terbaru. Berdasarkan data Trading Economics, indeks dolar AS (DXY) berada di 99,9208 pada 10 Juni 2026, turun tipis 0,04% dari sesi sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, dolar AS masih menguat 2,01%, dan secara tahunan naik 1,31%. Trading Economics juga mencatat bahwa secara historis DXY pernah menyentuh rekor tertinggi 164,72 pada Februari 1985.
Penguatan dolar AS terutama ditopang oleh statusnya sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Trading Economics menyebut dolar bergerak di sekitar level 100 setelah rebound intraday yang kuat, seiring ketegangan baru di Timur Tengah yang kembali mengguncang sentimen pasar. Konflik tersebut memicu kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata, sementara kenaikan harga energi ikut menambah tekanan pada ekspektasi inflasi global.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga menyoroti arah Federal Reserve. Trading Economics menuliskan bahwa investor menunggu data inflasi Amerika Serikat untuk mencari sinyal baru mengenai prospek suku bunga, setelah data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Di saat yang sama, pasar juga memperkirakan ECB dan Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini, sehingga perbedaan kebijakan bank sentral tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan mata uang utama.
Secara struktural, DXY adalah indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Komposisinya didominasi euro dengan bobot 57,6%, disusul yen Jepang 13,6%, pound sterling 11,9%, dolar Kanada 9,1%, krona Swedia 4,2%, dan franc Swiss 3,6%. Artinya, setiap perubahan sentimen terhadap kawasan Eropa, Jepang, atau Inggris bisa langsung memengaruhi arah dolar AS di pasar global.
Untuk ke depan, Trading Economics memperkirakan DXY berada di 99,94 pada akhir kuartal ini dan turun ke 98,16 dalam 12 bulan ke depan. Proyeksi ini menunjukkan bahwa meski dolar AS masih kuat dalam jangka pendek, pasar mulai melihat ruang pelemahan bertahap apabila ketidakpastian geopolitik mereda dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter meningkat.
Bagi trader dan investor, pergerakan dolar AS tetap menjadi indikator penting karena berdampak luas pada emas, minyak, saham, obligasi, dan pasangan mata uang utama. Selama ketegangan Timur Tengah, inflasi, dan arah suku bunga The Fed belum benar-benar jelas, volatilitas dolar AS diperkirakan masih akan tinggi.
