Dolar Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan pada awal Juni 2026. Berdasarkan data Trading Economics, indeks dolar AS atau DXY bergerak di sekitar 99,4 pada 5 Juni 2026, turun tipis 0,02% dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, dolar AS masih menguat 1,43%, meski secara tahunan hanya naik 0,23%. Trading Economics juga mencatat rekor tertinggi historis DXY berada di 164,72 pada Februari 1985.
Penguatan dolar AS terutama ditopang oleh statusnya sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Di halaman Trading Economics, disebutkan bahwa ketegangan di Timur Tengah mendorong permintaan terhadap dolar, sementara investor menilai perkembangan negosiasi damai dan risiko konflik yang lebih luas masih sangat rapuh. Kondisi ini membuat greenback tetap diminati ketika pasar global mencari perlindungan dari gejolak.

Dari sisi fundamental, pasar juga fokus pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve. Trading Economics menyoroti bahwa data pasar tenaga kerja terbaru masih menunjukkan ketahanan ekonomi AS, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu alasan utama investor menilai kebijakan moneter AS bisa tetap ketat.
Secara komposisi, indeks DXY memang sangat dipengaruhi oleh beberapa mata uang utama dunia. Euro menjadi komponen terbesar dengan bobot 57,6%, disusul yen Jepang 13,6%, poundsterling 11,9%, dolar Kanada 9,1%, krona Swedia 4,2%, dan franc Swiss 3,6%. Artinya, setiap perubahan sentimen terhadap Eropa, Jepang, atau Inggris dapat ikut memengaruhi pergerakan dolar AS di pasar global.
Trading Economics memperkirakan DXY berpotensi berada di 98,74 pada akhir kuartal ini dan turun ke 97,02 dalam 12 bulan ke depan. Proyeksi tersebut mengindikasikan pasar masih melihat ruang pelemahan moderat pada dolar AS, meski dalam jangka pendek mata uang ini tetap didukung oleh ketidakpastian global, ekspektasi kebijakan The Fed, dan data ekonomi AS yang masih solid.
Bagi investor dan trader, pergerakan dolar AS tetap menjadi indikator penting karena berdampak langsung pada emas, minyak, saham, dan mata uang utama lain. Selama konflik geopolitik dan arah suku bunga AS belum benar-benar jelas, volatilitas DXY diperkirakan masih akan tinggi.
