Berdasarkan data Trading Economics yang diperbarui pada 3 Juni 2026, harga crude oil (WTI) naik ke 94,67 dolar AS per barel, menguat 0,97% dari perdagangan sebelumnya. Meski sempat tertekan, harga minyak mentah masih tercatat 11,04% turun dalam satu bulan terakhir, namun tetap 50,63% lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Trading Economics juga mencatat bahwa harga tersebut berasal dari instrumen CFD yang mengikuti acuan pasar benchmark minyak dunia.
Kenaikan harga minyak kali ini terutama ditopang oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Dalam laporan yang dimuat Trading Economics, ketegangan antara AS dan Iran kembali memicu premi risiko di pasar energi, setelah adanya laporan serangan rudal balistik dan aksi balasan militer di kawasan tersebut. Di sisi lain, data industri di Amerika Serikat menunjukkan persediaan minyak mentah turun 6,8 juta barel pekan lalu. Jika data resmi nantinya mengonfirmasi angka ini, maka itu akan menjadi penarikan stok mingguan keenam secara beruntun di AS.

Dari sisi prospek, Trading Economics memperkirakan harga minyak mentah akan berada di sekitar 88,63 dolar AS per barel pada akhir kuartal ini, dan naik ke 103,10 dolar AS dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, rekor tertinggi historis minyak mentah masih berada di level 147,27 dolar AS pada Juli 2008. Artinya, pergerakan harga saat ini belum hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh faktor stok, pasokan, dan risiko politik global yang masih sangat sensitif.
Kesimpulan: selama tensi geopolitik masih tinggi dan data stok minyak AS terus menyusut, harga crude oil berpeluang tetap volatil dalam jangka pendek. Bagi pelaku pasar, fokus utama tetap pada perkembangan konflik Timur Tengah, negosiasi AS-Iran, serta data persediaan minyak mingguan Amerika Serikat.
