Indeks dolar AS (DXY) kembali melemah, diperdagangkan sekitar 99 pada Senin, 25 Mei 2026. Menurut Trading Economics, DXY berada di 98,9991, turun 0,24 % dari sesi sebelumnya. Dalam sebulan terakhir dolar AS naik 0,51 %, namun dalam setahun turun tipis 0,11 %. Proyeksi Trading Economics menargetkan DXY 99,03 pada akhir kuartal ini dan 97,30 dalam 12 bulan ke depan.
DXY mengukur kinerja dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia. Komposisinya didominasi euro (57,6 %), yen Jepang (13,6 %), pound sterling (11,9 %), dolar Kanada (9,1 %), krona Swedia (4,2 %), dan franc Swiss (3,6 %). Karena itu, pergerakan DXY sangat dipengaruhi oleh dinamika mata uang besar global, terutama euro dan yen.

Tekanan pada dolar AS saat ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan kesepakatan AS-Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Ekspektasi tersebut membuat kekhawatiran inflasi dan peluang kenaikan suku bunga mereda, sementara harga minyak ikut melemah. Di sisi lain, pasar masih menunggu data inflasi PCE untuk membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve berikutnya.
Walau sempat turun, dolar AS sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi enam pekan karena investor memperkirakan The Fed mungkin perlu tetap mengetatkan kebijakan untuk menahan inflasi. Trading Economics juga menyoroti bahwa sebagian pelaku pasar masih memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Dengan kondisi ini, dolar AS masih bergerak dalam fase sensitif terhadap data ekonomi, geopolitik Timur Tengah, dan ekspektasi suku bunga.
Bagi trader forex, pergerakan dolar AS saat ini penting karena bisa memengaruhi banyak aset, mulai dari emas, minyak, hingga pasangan mata uang major. Selama pasar belum mendapat kepastian baru dari data inflasi dan kebijakan The Fed, volatilitas DXY kemungkinan masih akan tinggi.
