Dolar AS melemah pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 18 bulan. Berdasarkan data Trading Economics, indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 102,08, turun 0,45% dibandingkan sesi sebelumnya. Meski terkoreksi, indeks tersebut masih menguat sekitar 1,82% dalam sebulan terakhir dan 3,81% secara tahunan. (Trading Economics)
Pelemahan dolar terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menurun. Reuters melaporkan yield Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,09%, sedangkan tenor 30 tahun berada di sekitar 5,45%. Penurunan yield membuat daya tarik relatif aset berbasis dolar berkurang, sementara investor meningkatkan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS sebagai aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian pasar. (Reuters)
Inflasi AS dan Prospek Suku Bunga The Fed

Perhatian pasar masih tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi tahunan mencapai 3,7% pada September 2026, meningkat dari 3,4% pada Agustus dan melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti atau core CPI naik menjadi 2,6% secara tahunan. Kenaikan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong tekanan inflasi. (Reuters)
Inflasi yang lebih tinggi meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Namun, sejumlah pejabat bank sentral AS mengisyaratkan bahwa mereka masih membutuhkan data tambahan sebelum mengambil keputusan. Sikap tersebut membuat pasar kembali menimbang kemungkinan suku bunga dipertahankan pada pertemuan Oktober, meski risiko pengetatan lanjutan tetap terbuka.
Trading Economics mencatat pasar memperkirakan sekitar 73% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Investor selanjutnya mencermati data Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, serta pernyataan pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter. (Trading Economics)
Dampak terhadap Forex dan Harga Emas
Pergerakan DXY dapat memengaruhi berbagai instrumen keuangan karena indeks ini mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk euro, yen Jepang, dan pound sterling. Ketika dolar melemah, pasangan seperti EUR/USD berpotensi mendapat dukungan, sementara USD/JPY dapat menghadapi tekanan jika faktor lain tidak berubah.
Di pasar komoditas, pelemahan Dolar AS dapat membantu menopang harga emas atau XAU/USD karena emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Namun, arah emas juga dipengaruhi oleh yield Treasury, ekspektasi suku bunga, dan risiko geopolitik.
Bagi trader Indonesia, perkembangan Dolar AS dan indeks DXY perlu dipantau bersama data inflasi, tenaga kerja, yield Treasury, serta komunikasi The Fed. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memicu volatilitas pada pasangan mata uang utama dan harga emas. Karena itu, analisis fundamental perlu dipadukan dengan analisis teknikal serta manajemen risiko dalam setiap keputusan trading.
