Inflasi Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pasar menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Agustus 2026. Berdasarkan proyeksi Trading Economics, inflasi tahunan AS diperkirakan bertahan di 3,4% pada Agustus, sama seperti angka Juli. Sementara itu, CPI bulanan diperkirakan meningkat 0,4%, lebih tinggi dibanding kenaikan 0,1% pada Juli.
Data aktual terakhir menunjukkan inflasi AS pada Juli turun menjadi 3,4% dari 3,5% pada Juni. Dalam basis bulanan, CPI naik 0,1% setelah sebelumnya turun 0,4% pada Juni. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat kenaikan Juli terutama dipengaruhi oleh shelter yang menyumbang sekitar dua pertiga kenaikan bulanan, sementara indeks energi justru turun 1,5%.
Core CPI dan Harga Energi Jadi Perhatian

Salah satu indikator yang akan diperhatikan trader adalah core CPI, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi. Trading Economics memperkirakan core inflation turun menjadi 2,4% secara tahunan pada Agustus, dari 2,5% pada Juli. Secara bulanan, core CPI diproyeksikan naik 0,2%, sama seperti bulan sebelumnya. Jika terealisasi, angka tahunan tersebut akan menjadi level terendah sejak Maret 2021.
Di sisi lain, tekanan harga energi masih menjadi faktor penting. Trading Economics memperkirakan harga bensin meningkat hampir 3% pada Agustus, sementara harga bahan makanan juga berpotensi kembali meningkat. Kenaikan biaya energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi utama, meski harga perumahan atau shelter mulai menunjukkan tanda-tanda melunak.
Pada Juli, inflasi energi masih tercatat tinggi secara tahunan, mencapai 14,7%, sementara inflasi makanan berada di 3,0%. Shelter naik 3,2% dan jasa di luar energi meningkat sekitar 3,0%. Komponen-komponen tersebut penting karena dapat menunjukkan apakah tekanan inflasi AS semakin mereda atau justru kembali menguat.
Dampak CPI AS terhadap The Fed dan Dolar AS
Data CPI Amerika Serikat memiliki peran penting dalam membentuk ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat membuat pasar memperkirakan suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Perubahan ekspektasi tersebut biasanya berdampak pada Dolar AS, imbal hasil Treasury, dan harga emas. Trader forex juga dapat memperhatikan pasangan seperti EUR/USD dan USD/JPY, yang sensitif terhadap perubahan prospek suku bunga AS.
Bagi trader di Indonesia, fokus sebaiknya tidak hanya pada angka inflasi tahunan. Perbandingan antara CPI aktual, core CPI, data bulanan, dan ekspektasi pasar dapat membantu membaca respons pasar dengan lebih baik. Rilis CPI Agustus ini menjadi penting karena pasar menggunakan data tersebut untuk menilai arah inflasi AS dan langkah The Fed berikutnya. Karena volatilitas dapat meningkat saat data dirilis, manajemen risiko tetap perlu menjadi bagian dari setiap keputusan trading.
